Kunci Making Indonesia 4.0: SDM Berkualitas Tinggi dan Spesifik

Pemerintah Indonesia meluncurkan inisiatif Making Indonesia 4.0 menandai tahapan ekonomi menuju era Industri 4.0, yang diyakini dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas perekonomian nasional. Langkah strategis ini telah menjadi bagian dari agenda nasional untuk dilaksanakan secara kolaboratif dan sinergis di antara semua pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

International Management Accounting Conference (IMAC) 2019, Akuntan Manajemen Indonesia Bersatu (AMIB), bekerja sama dengan para mitranya, yaitu Institute Management Accountants (IMA®), John Wiley & Sons, Inc. dan Bursa Efek Indonesia, memfasilitasi bertemunya para pakar dan profesional membahas industri 4.0 tersebut melalui diskusi terkait tantangan yang dihadapi akuntan terhadap perekonomian Indonesia dari dampak globalisasi.

Inisiatif Making Indonesia 4.0 diharapkan mampu merevitalisasi industri manufaktur nasional agar lebih kompetitif di tingkat global. Ada lima sektor yang diprioritaskan penerapannya, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektronik. Kelima sektor industri tersebut memiliki potensi terbesar untuk beralih ke otomatisasi mesin serta sumber daya robotik sebagai pendukung tenaga kerja manusia.

Inisiatif ini juga mengarahkan perekonomian nasional untuk bergerak menuju sistem ekonomi digital. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2017 pasar digital untuk produk domestik bruto (PDB) Indonesia meningkat 4% dibandingkan 2016. Sementara pada tahun yang sama, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta. Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN pada 2020, dengan total transaksi e-commerce mencapai US$ 130 juta.

Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia/Kepala Bappenas, dalam paparannya, mengutarakan bahwa Indonesia diperkirakan memiliki pangsa pasar e-commerce Asia Tenggara sebesar 52% pada tahun 2025, didorong oleh pertumbuhan kelas menengah dan peningkatan akses ke infrastruktur digital.

Ke depannya, digitalisasi akan dengan mudahnya menggantikan pekerjaan konvensional yang ada. Maka menurut pandangan pemerintah, perlu memproduksi ahli-ahli yang spesifik dan berkualitas tinggi untuk menghadapi industri 4.0.

“Untuk menyokong, kuncinya adalah harus fokus pada penguatan SDM, tidak bisa dengan cara biasa, perlu membuat pengembangan SDM yang sesuai yakni berkeahlian tinggi dan spesifik. Supaya bisa adaptif dengan kebutuhan masa depan,” ujar Bambang.

Senada dengan Bambang, Josh Heniro selaku Director of IMA Southeast Asia juga menyoroti soal peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat menjadi jawaban atas kekhawatiran para profesional dalam melihat perkembangan zaman dan tantangan dalam industri. Menurutnya, akuntan memiliki posisi dan peranan penting untuk membuat strategi serta pengambilan keputusan demi kemajuan perusahaannya.

“Para profesional harus melihat kesempatan dan tantangan yang dihadapinya. Tak hanya berbekal ilmu dari lulusan pendidikan terakhir, para profesional juga harus meningkatkan keahlian yang ada di dirinya,” ujar Josh.

Original source: https://swa.co.id/swa/trends/management/kunci-making-indonesia-4-0-sdm-berkualitas-tinggi-dan-spesifik